HOME arrow News Flash  
 
 
 
Main Menu
HOME
About Us
Activities
Article
News Flash
Community News
GENTA AGRARIA
Infodoc
Commercial Info
Services
Photo Gallery
FTA
Healthy
ALAMAT DKP
ARSIP 2007
ARSIP 2008
Contact Us
 
Rencana
Wednesday, 17 March 2010
Perencanaan Pembangunan Desa
Partisipasi Masyarakat Tak Terelakkan
 
Dalam pembangunan bangsa saat ini, peran dan partisipasi masyarakat sangat penting. Sudah sepatutnya, masyarakat mengenal keadaan, potensi diri dan sekitarnya sehingga bisa memanfaatkan dan mengembangkannya untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, bagi perikehidupan bersama. Seperti di Dusun Mulia Kasih, Desa Tandam Hilir II, Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, masyarakat menyelenggarakan perencanaan partisipatif, difasilitasi oleh Ariadi, Pendamping Komunitas (Community Organizer/CO) dari Bina Desa pada 21-23 November 2009.   Melalui kegiatan selama tiga hari, masyarakat menggali potensi dan masalah desa. Untuk mendapatkan potensi dan masalah desa, mereka membuat peta desa dan kajian sejarah desa sejak jaman sebelum kemerdekaan hingga sekarang. Masyarakat yang sebagian besar adalah petani ini juga membuat daftar tanaman yang biasa ditanam dan hewan yang dipelihara selama masa itu. Ke-16 peserta kegiatan ini juga membuat indikator masalah kerawanan pangan, ketersediaan pangan, dan masalah umum yang seringkali terjadi di wilayah mereka serta penyelesaiannya.
 
Mengenali Masalah Bersama
 
Satu per satu peserta kegiatan perencanaan partisipatif ini menyampaikan pendapatnya, masalah yang mereka hadapi dan bagaimana pemecahannya. Menurut Pak Paijo, salah seorang peserta, masalah yang mereka hadapi di antaranya perubahan situasi kehidupan masyarakat desa yang sangat dipengaruhi oleh kondisi di luar desa, terutama oleh kebijakan pemerintah, situasi politik dan kondisi pasar dunia. Hal ini terlihat dari pergantian komoditas tanaman dan gaya hidup yang berubah (makanan, sarana tempat tinggal, pakaian, sarana komunikasi dan transformasi) serta watak sosial (terutama sifat kegotong-royongan).

Perubahan ini juga menyebabkan peningkatan pengeluaran petani, yang semuanya harus dibeli dengan uang. Hal ini menunjukkan petani sudah terintegrasi secara penuh dalam kehidupan global, tetapi masih dalam posisi yang lemah yaitu dalam cengkeraman globalisasi (masyarakat dunia yang menjadi satu kesatuan).  Dengan gaya hidup yang berubah, ukuran kebahagiaan hidup masyarakat juga berubah. Pertama, dari pola hidup sederhana, bersahaja (apa adanya) dan menghargai serta menjaga harmonisasi (kesesuaian) hidupnya dengan alam beralih ke kehidupan dengan pola baru yang menginginkan semuanya serba cepat, mudah dan mewah. Kedua, penguasaan lahan pertanian yang luas, status sosial, kepemilikan uang yang banyak kini menjadi lambang kebahagiaan dan kekuasaan. Karena dengan uang, semua bisa mereka beli (tanah, makanan, pakaian, tempat tinggal, kendaraan, alat komunikasi dan hiburan).
“Yang perlu diwaspadai dengan perubahan ini, untuk mengejar kebahagiaan dan memenuhi kehidupan yang serba instant, mudah dan mewah,” ujar Pak Paijo. “Petani memaksa lahan pertaniannya agar menghasilkan produk yang lebih banyak dengan cara memberikan pupuk lebih banyak agar tanamannya menghasilkan lebih banyak, membasmi semua hama yang dianggap bakal mencuri produk pertaniannya, sehingga akibatnya keseimbangan ekosistem agro terganggu. Padahal, lahan pertanian yang rusak atau hancur, pada gilirannya akan membawa kehancuran petani”.

Masalah lainnya, dari tahun ke tahun kualitas hidup dan sarana hidup masyarakat semakin membaik, tetapi pengetahuan dan teknologi yang dimiliki (kearifan masyarakat) terus tergerus. Hal ini menyebabkan petani tidak lagi berdaulat atas uasaha pertaniannya dan menyebabkan petani menjadi tergantung pada pihak lain (pasar, produsen pupuk, benih dan racun) semakin meningkat. Contohnya, petani tidak lagi bisa membuat bibit tanaman pertanian sendiri, pupuk dan racun pertanian, akibatnya harga input pertanian menjadi tinggi, sementara harga produk pertanian ditentukan pasar. Hal ini akan membuat biaya bercocok tanam menjadi mahal dan usaha tani tidak menguntungkan lagi, lalu pendapatan petani akan terus menurun, sehingga tidak cukup untuk membiayai kebutuhan hidup.  asalah lain di desa ini adalah komoditas tanaman pertanian dan proritas pemanfaatannya sudah berubah dari pola pertanian yang bertujuan menjamin ketersediaan bahan pangan keluarga dan bila lebih baru dijual, menjadi pola pertanian yang berorientasi memenuhi permintaan pasar (mutlak untuk dijual) yang harganya lumayan mahal dan menguntungkan, lalu hasil penjualannya digunakan untuk belanja kebutuhan pangan keluarga. Hal ini tampak wajar, mengingat petani membutuhkan keuntungan untuk menopang hidupnya yang sudah beralih ingin menjadi serba mudah, cepat dan mewah itu. Risikonya, petani tidak mempunyai kuasa untuk menentukan harga, karena harga produk pertaniannya ditentukan pasar. Bahkan seringkali naiknya harga kebutuhan bahan pangan yang dibeli dari hasil menjual produk pertanian tidak sebanding dengan produk kebutuhan lainnya.
 
Rekomendasi Pembangunan Desa
 
Hasil pemetaan masalah dan solusi ini akan diolah menjadi rencana desa yang direkomendasikan untuk pembangunan desa dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Rekomendasi ini akan berisi bungkusan besar rencana kegiatan yang dianggap perlu untuk dilakukan dalam rangka mengatasi masalah desa dengan memanfaatkan potensi desa.  Dari rekomendasi ini akan kami tindaklanjuti dengan penyusunan rencana teknis pelaksanaan kegiatannya yang pembahasannya diperkirakan akan dilaksanakan pada Bulan Desember 2009,”  kata Ariadi.  etelah rencana teknis tersusun, menurutnya, jika memungkinkan akan dilaksanakan konsultasi dengan kasi PMD Kecamatan Hamparan Perak, Deli Serdang pada Januari 2010. Dari kegiatan ini ia berharap masyarakat bisa menyampaikan rencana kegiatan di desanya dan meminta kasi PMD membantu mengusulkan rencana kegiatan mereka kepada pihak terkait. Selanjutnya pada Maret 2010, mereka akan melaksanakan rakorbang di TK II di Kabupaten Langkat.

“Dengan usulan ini, kami berharap dapat terlibat dalam proses-proses pembangunan dan penganggaran desa, karena selama ini kami tidak tahu bagaimana hal itu terjadi dan bagaimana memanfaatkan dana-dana pembangunan APBN, APBD provinsi dan kabupaten serta APBDes,” jelas Ariadi lagi (disarikan dari laporan Perencanaan Strategis Desa Tandam Hilir II, 21-23 November 2009/ani purwati/ink).
 
 
 
  designed and created by it@coopsindonesia