HALAMAN DEPAN arrow ARTIKEL  
 
 
 
Main Menu
HALAMAN DEPAN
TENTANG KAMI
KEGIATAN
ARTIKEL
BERITA BARU
BERITA KOMUNITAS
GENTA AGRARIA
INFODOK
INFO NIAGA
JASA PELAYANAN
GALERY FOTO
FTA
INFO KESEHATAN
ALAMAT DKP
ARSIP 2007
ARSIP 2008
KONTAK KAMI
 
Mungkinkah
Tuesday, 06 July 2010
Mungkinkah  Petani Kecil dan Nelayan Tradisional Sejahtera?
Sebuah catatan dari pengalaman pendampingan
Oleh Nanang Hari S

Image Lebih dari separuh jumlah penduduk Indonesia tinggal di pedesaan dan sebagian besar dari mereka adalah para petani yang menggantungkan penghidupannya kepada sumber daya agraria untuk menghasilkan pangan. Disamping untuk konsumsi sendiri, pangan yang dihasilkan juga dipergunakan untuk memberi makan penduduk lainnya yang bukan petani terutama penduduk perkotaan (net konsumer), maupun dari berbagai wilayah lain yang mengalami keterbatasan sumber daya agraria sehingga tidak bisa menghasilkan sumber pangan.

Faktanya kini memang ironis. Sebagian besar penghasil pangan di wilayah pedesaan terdiri dari para petani dengan penguasaan lahan rata-rata dibawah 0,3 ha per keluarga. Pendapatan riil petani tidak juga meningkat meski produksi pangan terus meningkat. Padahal, setiap tahun, 25 juta rumah tangga petani memproduksi pangan, meliputi padi, jagung, kedelai, ubi kayu, dan ubi jalar, yang nilainya Rp 258,2 triliun. Akibatnya, hal ini yang kemudian mendorong migrasi tenaga kerja (usia produktif) dari pedesaan menuju ke berbagai kota besar bahkan menjadi buruh migrant di berbagai Negara terutama Arab Saudi, Malaysia, Korea dan lain sebagainya.

Kehidupan para petani (perempuan dan laki-laki) yang merupakan penduduk terbesar republik ini tidak pernah menjadi perhatian serius dalam proses pembangunan, yang terjadi adalah sebaliknya dimana sejak Orde Baru para petani dan wilayah pedesaan dijadikan penyokong utama bagi pertumbuhan ekonomi dan pembangunan di perkotaan, yang pada akhirnya justru menimbulkan gap atau jurang yang cukup dalam antara pedesaan dan perkotaan dalam segala hal.
Realitas Kehidupan Petani Kecil / Nelayan Tradisional

Katagori petani terbagi dalam petani pemilik, petani penggarap, dan buruh tani. Petani pemilik sebagian besar adalah berlahan sempit, berdasarkan data yang diperoleh selama pendampingan (terutama di Jawa) petani pemilik yang mempunyai lahan diatas 2 hektar pada masing-masing desa tidak lebih dari 10 %. Sedangkan nelayan terbagi dalam Juragan, buruh nelayan dan nelayan tradisional/kecil. 

Sementara ditempat yang lain ketergantungan yang sangat tinggi terhadap input produksi berupa benih, pupuk dan pestisida (dari waktu ke waktu kebutuhannya terus meningkat), serta tidak mempunyai akses ke banyak hal, seperti; sumberdaya agraria, permodalan, informasi, teknologi, dan lain sebagainya.

Fenomena lain yang menjadikan pewacanaan soal kesejahteraan petani atau nelayan adalah karakter sulit menerima pembaruan/inovasi terutama dari luar (dan akan mengikuti apabila sudah ada contoh keberhasilan), hal ini dikarenakan budidaya atau pengusahaan dilakukan pada lahan terbatas yang dimiliki dan keberhasilan merupakan harapan bagi semua keluarga. Mereka hampir tidak mempunyai surplus dalam proses produksi, oleh sebab itulah seringkali para petani kecil terjebak dalam system “ijon” atau kalau tidak pada saat panen terpaksa harus dijual walaupun harga jatuh karena 3 alasan, yaitu; 1) untuk membayar hutang-hutangnya (dalam istilah lokal disebut “yarnen”, 2) sebagai biaya produksi berikutnya, dan 3) untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Untuk menutupi kekurangan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari sebagian besar dari mereka mempunyai pekerjaan sampingan apa saja atau serabutan.

Bila kita berhitung, petani atau nelayan jumlahnya cukup banyak, populasi yang tinggi ini mestinya dapat menjadi capital social yang produktif jika diwadahi dan diberdayakan secara berkeadilan dan mandiri. Tetapi sayangnya, yang berlaku adalah mereka tidak terorganisir sehingga tidak cukup punya posisi tawar dalam berhadapan dengan pihak lain. Disamping itu sebagian besar petani yang ada sudah berusia lanjut, dan golongan usia produktif menjadi buruh migran ke kota besar dan bahkan keluar negeri seperti yang telah diuraikan di atas.

Kesulitan lain yang bisa kita sebutkan adalah bahwa mereka dalam melaksanakan budidaya sangat tergantung pada musim, tetapi pada sisi lain mulai kehilangan sensitifitas terhadap tanda-tanda alam (kearifan lokal), apalagi karena pengaruh dan dampak dari perubahan iklim dan pemanasan globl yang tidak dipahami. Diatas itu semua perempuan dan anak-anak merupakan kelompok yang paling rentan terhadap berbagai resiko akibat kemiskinan.

Selengkapnya...
 
<< Awal < Sebelumnya 1 2 Berikutnya > Akhir >>

Hasil 1 - 16 dari 24
 
  designed and created by it@coopsindonesia